Memangnya, Ada Apa dengan Cinta? — Catatan Perjalanan (Magelang)
Aku pertama kali nonton AADC 2 waktu kelas 6 SD. Saat itu awalnya aku suka banget sama iklan LINE dengan cast AADC, apalagi bagian “jadi beda? satu purnama di New York dan di Jakarta?” udah lah itu setelahnya selama lebih dari seminggu bagian belakang buku tulisku isinya quote tersebut. Kemudian baru kuketahui bahwa iklan itu berdasarkan AADC 1 dan akan dibuat film AADC 2. Nah, waktu aku nonton AADC 2 ketika sudah rilis, yang nancep di kepalaku bukan plot-nya, tetapi justru perjalanan yang dilakukan tokohnya di Jogja. Destinasi-destinasinya nampak menarik buatku dan bikin aku punya wishlist untuk mengunjunginya suatu saat.
“Suatu saat” itu ternyata nyaris 10 tahun kemudian. Tentu saja destinasinya ga sama persis.
Sellie Coffee — yang kamu lakukan ke saya itu jahat
Destinasi pertama yang kukunjungi adalah Sellie Coffee. Lokasinya ada di Prawirotaman. Kalau kamu inget Rangga dan Cinta lagi adu argumen, yang menurutku kenapa ga sekalian closure yak, nah itu di sini. The nostalgic scene, “Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu,,,,jahat”.
Link scene-nya:
https://youtu.be/k1mH8LNENw8?si=uQozuQ9USYnmijRX
Aku ke sana waktu malam hari habis muter-muter dengan sepeda, sekitar jam 9 malam. Saat aku datang sedang tidak ada pengunjung, jadi aku langsung menarget bangku tengah biar life imitates art banget tuh ngikutin scene-nya Rangga-Cinta. Di sana aku nggak pesan kopi karena selain sedang ga pengen, aku juga gamau susah tidur (dan palpitasi). Akhirnya aku pesan es choco mint. Kedainya nyaman, musik yang mereka putar adalah lagu-lagu yang lagi populer deh kayaknya, terus bisa sambil baca buku karena mereka punya koleksi buku.
Aku suka suasananya sih meskipun kurang sreg sama lagu yang di-play wkakakaka. Apa yah…hangat gitu. Jelas sangat Indonesia. Dindingnya ajaa dari anyaman dan dihiasi lukisan, lantainya ada gambaran leak Bali.
Lucu juga sih ngedatengin tempat-tempat yang ada dalam film favorit wkwkwkkw. Mungkin bisa dijadikan referensi tempat buat ngasih closure.
Sate Klathak
Destinasi kedua, sudah beda hari. Aku dateng ke sini untuk makan malam sama Lathifa. Sebenarnya kalau di AADC 2, sate klathak yang mereka makan itu bukan di Mak Adi, tapi di Pak Bari. Nah, aku pilih yang Mak Adi karena lihat review-review kayaknya lebih cocok yang Mak Adi. Lokasinya berada di daerah Imogiri, Bantul. Sepanjang jalan daerah sana ada beragam penjual sate klathak, termasuk lokasinya Pak Bari juga deketan. Hzmzmmz mungkin pusat sate klathak emang di daerah tersebut.
Sate klathak ini unik karena daging kambingnya ditusuk dengan jeruji besi sepeda, lalu ketika dibakar kan dibumbui pakai garam. Bunyi percikan yang ditimbulkan adalah tak..tak..tak. jadilah sate klathak. Uniknya lagi sate klathak nggak pakai bumbu kacang dan kecap, tapi disajikan dengan kuah gulai. Di Sate Klathak Mak Adi, kami dapat 2 tusuk sate per porsi. Rasanya dominan asin gurih dan dagingnya gak bau kambing. Sayangnya menurutku masih kurang empuk sih jadi effort banget ngunyahnya. Aduh tapi mantep sih men masih kebayang rasanya. Selain sate klathak, kami juga pesan tengkleng. Tengklengnya sangat empuk dan lebih manis sih. Kan aku juga beli tengkleng waktu di Solo, menurutku tengkleng di sini lebih manis kalau Solo lebih berempah dan rich.
Waktu pulang, sama maps diarahkan ke jalan tembusan lewat sawah-sawah. Ini nggak surem sih, justru yang surem adalah waktu udah keluar ke jalan raya. Lampunya mati, jadi kondisi jalan gelap. Kenapa gitu ya.
Malioboro
Sesudah dari Sate Klathak, kami jalan-jalan dulu di Malioboro untuk berunding tentang besok mau itinerary yang ambis atau santai. Kalau ambis, harus siap-siap dari jam 3 karena mau nonton sunrise, kalau santai ya santai kulineran dari pasar ke pasar.
Kami jalan sampai titik nol, turis banget tuh untungnya udah agak sepi. Kami amati isinya Malioboro mulai banyak toko-toko franchise dibanding terakhir kali ke sana, ya emang udah 5 tahun lalu sih. Perubahan lainnya adalah adanya pemusatan di Teras Malioboro. Kalau yang masih tetap sama adalah adanya musisi jalanan, andong kuda, dan becak-becak.
Sembari jalan, akhirnya kami mencapai konklusi, yaitu itinerary besok adalah itinerary ambis. Jadi, kami akan ke Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, dan Melek Huruf. Ketiganya bukan di Jogja, tapi Magelang. Dan kami harus siap dari jam 3 pagi kalau mau ngejar sunrise wkakkaka bangun ga tuh.
Ga disangka, inilah huru-haranya. Udah bangun jam 3 kan, tapi kami kehilangan karcis parkir. Dicari-cari ke mana-mana ga ketemu. Perkiraan jatuh waktu Lathifa nguarin HP di Malionoro. Yaudah pasrah kalau pun dapet denda karena waktu juga udah jam 4 kan. Akhirnya kami cao. Malioboro sebelum pagi sangat sunyi. Toko-toko tutup, beberapa bapak tidur di bangku-bangku jalan. Seperti Malioboro tapi bukan Malioboro biasanya.
Sampai di tempat kami parkir, bapak parkirnya masih tidur. Awalnya kukira lagi nggak ada petugasnya men jadi pikirku, aku tunggu bawah biar mencet gerbang buat ambil karcis lagi jadi gerbangnya terbuka lalu Lathifa keluarin motornya. Kan juga pulang nanti kami akan balik lagi untuk parkir di situ. Kalau nggak gitu gaakan bisa karena untuk gate keluar perlu petugas. Nah ternyata, bapaknya ada cuma lagi tidur di bawah, jadi ga kelihatan. Akhirnya kami bangunin bapaknya dan bilang kalau karcisnya ilang. Setelah ngurus-ngurus, ternyata gaada denda….gatau ya ini gaada denda atau bapaknya masih ngantuk. Cuma platnya dan jam masuknya dicatat aja sekalian foto STNK. Karena sudah clear, kami beneran cao ke Magelang.
Jogja — Kota M — Magelang
Perjalanan dari Jogja ke Magelang ditempuh dengan waktu 1 jam, tapi karena kami berhenti bentar jadi 1,5 jam lah. Start jam 4, gila yah dingin banget masih sepi pula ga banyak kendaraan lewat. Aku full dibonceng Lathifa. Jalannya mudah sih. Kami juga lewat kota M kalau kamu inget Gadis Kretek. Kota M adalah Muntilan, di sana kami juga lewat Wajik Ny. Pang yang legendaris itu.
Selama perjalanan dari awalnya masih gelap sampai mulai tampak rona oranye campur navy blue pada langit, lalu perlahan rona tersebut jadi pink. Tandanya matahari udah hampir terbit dan kami masih di jalan. Ayam-ayam juga udah pada berkokok. Ada banget ketar-ketirnya.
Waktu kami sampai melewati Borobudur, ada bapak-bapak naik motor, dia mendekat, tanya ke kami apa mau lihat sunrise? Lalu katanya di Borobudur gabisa lihat sunrise. Kujawab lah kalau kami mau ke Punthuk Setumbu. Dibales lagi, tau jalannya ga? Kalau ga tau dianterin bapaknya, tapi bayar 20 ribu. Konteks dianterin di sini maksudnya adalah kami buntutin bapaknya yang nunjukin jalan. Kalau gitu mah bukan jasa ojek lagi namanya, tapi jasa peta😭. Akhirnya kutolak karena kami lihat maps ajaa dan di sana sinyalnya nggak ilang sekalipun mulai nanjak.
Punthuk Setumbu
Sebelum sampai di Punthuk Setumbu, kami melewati sawah dan pedesaan, kutahu setelahnya ternyata kami juga lewat Svargabhumi Borobudur. Lalu saat sampai Punthuk Setumbu, dari tempat parkir dan beli tiket ternyata masih harus jalan dulu untuk ke spot sunrise-nya. Jalannya nanjak, ada yang pakai tangga ada yang enggak. Kanan kiri pohon-pohon, suara burung dan tonggerek menyatu. Kami jalan dulu 10 menitan baru sampai spot sunrise.
Sampailah kami di spot sunrise. Langitnya masih pink dan berkabut. Matahari belum terlihat naik karena masih ketutupan kabut. Di depan kami, tampak dua gunung, baru kuketahui bahwa gunung tersebut adalah Gunung Merapi dan Merbabu, sedangkan Punthuk Setumbu sendiri berada di gugusan pegunungan Menoreh. Di antara pemandangan gunung dan pohon-pohon di depan kami, ada yang bikin Punthuk Setumbu unik, sekaligus alasan kenapa kami ke sini selain karena kepengaruh AADC 2, yaitu Candi Borobudur dan Gereja Ayam yang tampak cantik. Barengan dengan latar Gunung Merapi dan Merbabu, pada saat itu langit sedang merona oranye dan merah jambu (nulis gini biar rima u, meskipun jadi ga konsisten). Kami menyaksikan matahari perlahan terbit, sampai akhirnya mulai terik pada pukul 6.15.
Ternyata pengunjung Punthuk Setumbu lebih banyak turis asing dibandingkan domestik. Kenapa gitu yah. Udah jauh juga sih dari era AADC 2. Mungkin karena spot sunrise-nya bukan hanya Punthuk Setumbu? Entah.
Saat matahari mulai terik, kami mulai lapar. Untungnya si Lathifa bawa kerupuk ceker dari Ima (terima kasih Ima, enak kerupuk cekernya). Kami duduk di sekitar situ sembari makan kerupuk ceker dan ngobrol. Sebenarnya di sana juga sudah ada kedai, tapi kami belum lapar untuk makan makanan berat. Pukul 6.45 kami cao ke destinasi selanjutnya.
House of Prayer for All Nations
Tebak ke mana? Jelas, ke Gereja Ayam. Jadi, sewaktu berada di jalan menuju Punthuk Setumbu, itu ada penunjuk jalan, kalau ke Punthuk Setumbu dari arah kami harus belok ke kiri, sedangkan kalau ke Gereja Ayam belok ke kanan. Sangat dekat. Bisa ditempuh dengan motor nggak sampai 10 menit.
Sampai di Gereja Ayam, parkiran masih sangat sepi, bahkan motornya hanya satu, yaitu motor kami. Untuk menuju ke Gereja Ayam, lagi-lagi harus jalan kaki naik tangga, bisa juga naik shuttle jeep tapi kami tetap memutuskan untuk jalan biar #sehat aja sih.
Untuk masuk ke Gereja Ayam bisa menggunakan guide dan gratis. Kakak guide-nya menceritakan mengenai Gereja Ayam. Total ada 7 lantai, di lantai pertama tidak boleh mendokumentasikan karena isinya adalah sejarah dan ruang-ruang doa. Ternyata, Gereja Ayam ini bentuknya bukanlah ayam, melainkan burung merpati putih dan dia sebetulnya bukan gereja, tetapi rumah doa untuk semua agama. Tapi karena founder-nya beragama kristen, jadi dulu dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai gereja, padahal enggak.
Lantai satu menurutku benar-benar magis. Sembari menyusuri sejarah dan ruang doa, musik yang diputar adalah lagu rohani. Menurutku suasananya tenang dan magis. Apalagi waktu melihat ruang-ruang doa yang dipahat seperti jadi di dalam goa. Tidak lupa kami memasang harapan pada wall of hope. Fun fact si Lathifa nulisnya pakai huruf hiragana karena dia bentar lagi cao exchange ke Jepang. Si keren.
(Ralat: yang nulis pakai hiragana bukan Lathifa, tapi bapak-bapak sebelum kami. Bagian Lathifa exchange ke Jepang itu benar adanya ntar lagi dia akan cao)
Lantai selanjutnya barulah bisa mendokumentasikan. Tempatnya mirip panggung teater. Kami naik ke atas lagi. Dindingngnya penuh lukisan dengan berbagai tema, intinya sih anti kenakalan remaja ya, seperi no drugs misalnya. Bahkan dilengkapi juga nomor Panti Rehabilitasi Betesda.
Kemudian, naik terus sampai menuju ke puncak, yaitu bagian mahkota merpati putih. Di sini kapasitas hanya 8 orang, jadi jika penuh harus antre dulu. Saat itu kami naik bersama dua orang lainnya. Ini ada di scene AADC sih, si Rangga sama Cinta naik menuju mahkota, cuma lewat tangga sempit dan kotak sempit, lubang untuk menuju ke atas.
Sampai di mahkota mataharinya terasa ga terlalu terik dan udaranya masih dingin. Angin juga pelan-pelan aja. Pemandangannya adalah Gunung Merapi dan Merbabu, seperti di Punthuk Setumbu, beserta perbukitan. What a breathtaking view.
Oiya, ada lagi cerita. Pada awal pembentukannya, Bapak Daniel pendiri Gereja Ayam semacam punya wangsit untuk membangun rumah doa di Bukit Rhema ini saat lagi perjalanan bisnis. Keren deh bisa gitu ya men. Cerita lengkapnya kenapa bisa nemu titik lokasinya bisa kamu dengarkan kalau ke sana.
Karena sudah puas, aku dan Lathifa turun untuk menuju ke Kedai Bukit Rhema. Tiap pengunjung gereja ayam akan mendapatkan snack gratis berupa singkong goreng dicocol ke sambel bawang. Sembari duduk-duduk, kami ngobrol hal-hal acak aja. Dari yang lawak sampai yang serius, termasuk goals-goals ke depan dan keresahan-keresahan kami, khas awal dua puluhan dah. Hzmzmzms semoga mendewasa dengan cara yang kita masing-masing percaya dan menyenangkan.
Sop Sapi
Ini sih gaada di AADC. Habis dari Gereja Ayam, kami ga jadi ke Melek Huruf karena bus travel-nya Lathifa ngabarin kalau bus-nya berangkat jam 2. Takut tercepot-cepot lah kalau mampir ke Melek Huruf dulu. Akhirnya, kami langsung turun balik ke Jogja buat sarapan sekaligus makan siang di sana aja. Sebenarnya aku udah ke sop sapi ini duluan saat hari pertamaku di Jogja, tapi karena sangat mantep akhirnya aku balik ke sana lagi sama Lathifa. Namanya adalah Sop Sapi Minarwati, lokasinya di Pasar Kranggan. Sebelumnya aku coba yang daging + otak, nah waktu sama Lathifa hanya ada daging + sum-sum, akhirnya kami pilih itu.
Kuah dari sopnya berempah, wangi banget. Ada satu rasa yang tiba-tiba kena di aku karena kegigit sesuatu, rasanya manis tapi habis itu gurih dan nyegrak, sampai kutanyakan ke Millata, kami kira cengkeh. Tapi ternyata waktu di BhuBhu (ini akan kuceritakan nanti), kuketahui bahwa yang kugigit itu bunga lawang. Enak banget….tanpa diracik lada, sambel, dan jeruk nipis pun enak. Ditambah racikan sesuai selera lebih mantep. Waktu Lathifa nengok, dia lihat ada minyak samin, katanya inilah yang bikin kuahnya wangi selain rempah-rempah tadi.
The Burnt Toast Theory
Aku udah punya dan aktif di TikTok. Beberapa kali muncul di page-ku seliweran tentang the burnt toast theory. Menurutku, simpelnya adalah ambil hikmahnya dari sebuah kejadian yang menurut kita ngeselin. Waktu kami sudah balik ke Bobobox, agen travel-nya Lathifa nge-chat kalau bus-nya itu ternyata jam 6 sore. Ada keselnya tuh karena kami ga jadi ke Melek Huruf dan satu lagi destinasi yamg mau kami tuju. Tapi langsung dijawab sama the greater entity tujuan dari kami balik jogja cepet meskipun bus-nya ga jadi jam 2, yaitu, kami akhirnya bisa bertemu Nadin.
Aku, Lathifa, dan Nadin dulu satu kamar asrama waktu kelas satu SMA (MAN). Sekarang kami mencar, yaitu Aku di Jawa Timur, Nadin di Jawa Tengah, dan Lathifa di Jawa Barat. Susah lah ketemunya. Kami terakhir ketemu sebelum pandemi, 2020. Wisuda pun ngga ketemu karena online. Sebuah kebetulan banget Nadin lagi KKN di area yang mudah kami jangkau. Tanpa fafifu lama-lama, kami janjian di Blanco Coffee and Books. Di sana ngobrol-ngobrol. Banyak banget yang diceritakan selama kami nggak berada di sisi satu sama lain 4 tahun ini.
Kalau Cinta ceritanya reuni sama teman-temannya girls trip di Jogja dan reuni (HARUSNYA CLOSURE YAH) sama Rangga, aku girl trip sama Lathifa dan reuni sama Nadin AHAHAHHAHAHHA cocoklogi yang mantap.
Lagu yang keputer di kepalaku saat kami ketemuan adalah Cigarette Daydreams. Mana kebetulan ada foto kami bertiga waktu umur 17 tahun lagii. Ternyata masih sama lawaknya sih. Cuma lebih membahas hal-hal yang pusing dan membingungkan aja soalnya udah pada semester akhir. Gws. Aduh semoga kami enjoy sama proses merekah itu men. Mendewasa dengan keren dan menyenangkan.
Setelah dari Blanco, kami jalan dikit ke Milk by Artemy untuk mam es krim. Hari itu lagi panas, tapi menurutku masih ga nyentrik banget lah panasnya. Di sana, kami juga foto dan ngobrol-ngobrol lagi sampai jam 4. Laluu foto lagi depan Artemy ala-ala turis banget pokoknya soalnya bunga bugenvil ungu (magenta) sedang mekar.
Kemudian, Lathifa cao ke tempat bus-nya. Aku yang awalnya mau ke suatu tempat dulu sebelum ngejar KRL jam 8 malam berganti rencana untuk langsung aja ke Stasiun Tugu untuk ngejar KRL ke Solo sore itu karena udah legrek dan loyo banget. Nadin yang mengantarkan akuu. Terus dia balik ke lokasi KKN-nya.
Begitulah AADC ala-ala pada perjalanan kali ini. Sebenarnya aku udah berencana ke Gereja Ayam waktu aku ke Jogja tahun 2019 saat SMA, tapi teman-temanku yang bersamaku saat itu gak mau wkakaka ya emang sih lebih enak kalau naik motor. Dulu kami naik grabcar soalnya. TAPI SAMA AJA TUHHH dulu milihnya ke Kopi Klotok…. Kalau dipikir-pikir sih kesalahan pemerintah juga yang bikin kebijakan transum ga memadai dan 24 jam, jadinya kami harus sewa motor deh…keknya hampir tiap aspek di hidup kita politis sih men. Oleh karena itu, gaada tuh kata-kata politik ga berpengaruh ke hidupmu.
Yah seperti katanya burnt toast theory, ambil hikmahnya men. Emang baru waktunya aja cocoknya di tahun ini.
Hzmmzmz trip yang sangat life imitates art.
Di bawah ini aku insert foto Gereja Ayam, udah dicat tuh awalnya aku protes berat ngedumel karena kenapa jadi kayak ayam artifisial beneran dah warnanya karena menurutku cocokan kalau gausah dicat. Eh ternyata emang bukan ayam tapi merpati putih. Aku ga protes lagi wkkww. Dan bukan gereja, tapi rumah doa.
PS :
May all beings be liberated. Aamiin.
Sampai bertemu dalam cerita berikutnya.
7.16 pm
25/08/2024
Sincerely,
F.